Maher

Alhamdulillah Maher sekarang 4 tahun. Penuh imajinasi, kreatif, sangat suka bermain balok dan bercita-cita jadi astronot. Aamiin :)

Awwab Muttaqy

Awwab, 5 tahun. Aktif, penyayang, suka renang, bercita-cita menjadi panglima perang :D

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

4.12.2014

Celoteh Kecil 2

Sekarang Awwab berusia 5 tahun..

Alhamdulillah, Awwab tumbuh cerdas, gagah dan sangat aktif. Terkait kata 'gagah', itu adalah kata pujian yang paling dia suka. Kalau kami memintanya memakai sepatu sementara dia ingin memakai sandal, kami tinggal mengatakan padanya, "Kalau pakai sepatu, lebih gagah deh". InsyaAllah dia segera menurut :D

Dia juga senang sekali menyisir rambutnya dengan rapi dan selalu menyimpan sisir di tas sekolahnya, karena ada yang pernah mengatakan padanya bahwa ia sangat 'gagah' dengan rambut yang tersisir rapi. Hehehehe...

Seiring dengan keaktifannya, Awwab sangat suka memanjat pohon.

Suatu hari Awwab memanjat pohon bersama beberapa teman laki-lakinya. Lalu datang sepupuku dengan 2 anak perempuannya yang sedikit lebih muda dari Awwab. Sakinah dan Salwa. Sakinah memandangi Awwab yang sedang memanjat pohon dengan lincah, sementara Salwa menempel pada ibunya.

Menyadari bahwa Sakinah memperhatikannya, Awwab pun memanggil, "Sakinah!! Manjat pohon yukk!". Dari jarak beberapa meter, aku tertawa melihat Sakinah yang tetap memandangi Awwab sambil diam menggeleng. Lalu Awwab mengulangi lagi ajakannya. Dan Sakinah tetap menggeleng.

Akupun menyahut sambil tertawa, "Sakinah kan anak perempuan, Kak.. Gak tertarik manjat pohon".

Awwab mengangguk mengerti. Sambil terus memanjat pohon dengan gaya 'gagah'nya, dia berkata, "Oh iya ya, kalau anak perempuan kan GAK WAJIB (manjat pohon)".

#eaaaa...


Maher & Susu

Maher pecinta susu. Seperti aku (hehe). Dan kesukaannya pada susu membuatku serasa bercermin pada masa kecilku dulu. Frekuensi minum susunya yang bisa sampai 5 kali sehari, bahkan caranya 'meracik' sendiri susu yang ia sukai, persis seperti aku. Padahal gak pernah diajarkan lho.

Awwab kakaknya, sangat berbeda 180 derajat. Untuk minum susu di pagi hari saja harus dipaksa atau diiming-imingi. Minumnya diseruput, sedikit-sedikit dan memakan waktu lama. Sering sekali terjadi, dua gelas susu yang aku sediakan akhirnya diminum Maher semua. Kalau aku protes, "Maher kok minum susu kakak?", si kakak malah membela, "Gak papa kok, buat Maher aja". Toeww...

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 9 April, di hari besar pesta demokrasi Indonesia, aku pergi ke TPS (tempat pemungutan suara) pagi-pagi sekali. Hampir berbarengan dengan suami yang memang bertugas menjadi saksi di sana. Anak-anak belum bangun. Akupun segera mendaftar dan mencoblos, memberi cemilan sekedarnya untuk suami berupa susu, biskuit dan softdrink, lalu segera beranjak pulang.

Di rumah, aku segera mengurus anak-anak, mandi, sarapan, dan mereka pun segera berlarian mencari aktivitas. Karena aku pikir TPS tempatku mencoblos berada di area yang cukup luas dengan banyak pepohonan, akupun kembali ke sana bersama anak-anak.

Melewati warung kecil di dekat rumah, Maher menangis minta dibelikan susu pink, istilah yang dia buat sendiri untuk menyebut susu rasa stroberi kesukaannya. Karena kakaknya sudah berlari duluan ke arah TPS, akupun tidak membelikan susu pink untuknya, dan hampir sepanjang jalan dia menangis tersedu.

Sampai di TPS, suami yang menjalankan tugas saksi meminta tolong padaku untuk menggantikannya sebentar. Akupun duduk di kursi saksi, dan anak-anak lalu-lalang: masuk ke area TPS dan keluar lagi bermain bersama teman-temannya. Maher menghampiriku, lalu membuka kantong snack milik Babanya, mencari-cari sesuatu, lalu matanya berbinar-binar sambil berteriak, "Susu!!!" (haha).

Aku izinkan dia mengambil susu milik Babanya, lalu dia duduk manis membuka susu dan meminumnya cepat sekali :D

Sampai tiba pada perhitungan suara, aku tetap di sana bersama anak-anak. Hari mulai siang dan Awwab dengan lahap memakan jatah makan siangku sebagai saksi. Sementara Maher memilih makan siang dengan roti dan susu (lagi).

Setelah makan siang, akupun memberi susu untuk Awwab. Sudah makan dengan lahap, Awwab menerima susu dengan enggan. Aku juga memberi susu pada 2 sepupuku yang juga sedang bermain di sana. Karena yang lain minum susu, Maher pun minta susu lagi! Susu ketiga untuk hari itu. Oke, aku berikan. Maher minum susu di atas pohon, dan lagi-lagi susunya habis dalam hitungan detik.

Dari kejauhan, aku melihat Maher minum lagi susu milik kakaknya, dan seperti biasa, ketika aku mulai protes dengan isyarat, kakaknya datang memegang perutnya yang besar (entah memang besar atau dibesar-besarkan) sambil berkata, "Aku kenyang". Baiklah, susu keempat untuk Maher.

Subhaanallah, mungkin memang rezeki Maher hari itu, sepupuku juga memberi susunya pada Maher. Oke Maher, itu susu kelima.

Dan bagiku, sudah berlebihan kalau Maher minta susu lagi, yang memang itu kenyataannya. Aku berusaha teguh untuk tidak memberinya susu lagi pada hari itu dan membiarkan mereka bermain. Nanti juga lupa, pikirku.

Memang anak laki-laki benar-benar berenergi, mereka bermain dengan sangat lincah dan aku hanya bisa mengawasi mereka dari jauh. Sampai tiba-tiba, Maher jatuh dari pohon! Dia sedang berusaha turun ketika jatuh, alhamdulillah tidak terlalu tinggi dan di bawahnya ada batang pohon yang lunak yang menahan ketiaknya. Spontan dia menangis keras dan aku segera mendekati dan memeriksa tubuhnya. Alhamdulillah, tidak ada darah ataupun sesuatu yang fatal, Maher lalu memelukku.

Masih sambil menangis, dia berkata, "Susunya kuraaaang,,, jadi aku gak kuaaaaatttt"...


APAA?? LOL


#Semoga Allah memberkahi setiap tetes susu yang kamu minum ya, sayang.. Dan menjadikanmu sehat, kuat, cerdas, mandiri, bermanfaat bagi ummat. Aamiin :)

3.30.2013

Insya Allah, In Shaa Allah, In Syaa Allah atau ....?

بِـــــــسْمِ اللَّهِ الرَحْمَـــــنِ الرَحِيـــــــمِ

Kira-kira sejak dua bulan terakhir, berkali-kali saya mendapat banyak pertanyaan mengenai cara penulisan yang benar untuk kata إِنْ شَاءَ اللَّهُ .

Bermula dari pic seorang Syaikh dalam bahasa Inggris yg menyatakan bahwa penulisan yang benar adalah "In Shaa Allah", bukan "Insha Allah" karena "Insha Allah" berarti "Create Allah".

Apakah itu benar?
Jawab saya: Benar sekali :)

Beliau merujuk kepada penulisan dalam bahasa Arab إِنْ شَاءَ اللَّهُ yang WAJIB di tulis terpisah antara huruf nun & syin nya.

Arti harfiahnya sbb:
إِنْ (in/jika)
شَاءَ (syaa-a/menghendaki)
الله (Allahu/Allah)
Jika Allah menghendaki.

Sedangkan kata إِنْشَاء (dgn nun & syin menyambung) berarti: membuat.

Lalu apakah yang menulis dengan "Insha Allah" atau "Insya Allah" lantas berdosa? Saya yakini tidak karena ia sama sekali tidak berNIAT mengatakan "create Allah". Penulisan tsb juga sudah sangat umum dlm masyarakat kita & tdk ada seorangpun yg memahami maknanya sbg "create Allah" kan? ;)

Satu hal yang sangat perlu kita perhatikan di sini: Bahasa pengantar Syaikh tsb adalah bahasa Inggris. Ini terkait dgn transliterasi bahasa Arab ke bahasa2 lain yg memiliki beberapa perbedaan. Dua huruf "sh" dalam literasi bhs Indonesia digunakan u/ huruf shad (ص), bukan syin (ش). Sementara dalam transliterasi Arab-Inggris berlaku, huruf "sh" adalah untuk huruf syin (ش), sedangkan huruf shad (ص) menggunakan "s" dengan titik di bawahnya.

Jadi kesimpulannya :):
1. Pic/info yg beredar tsb adalah benar, bukan hoax, dan merupakan ijtihad Syekh tsb yg patut kita hargai.
2. Penulisan "insyaAllah" dalam literasi selain Arab sah2 saja ditulis dalam bbrp susunan, selama penulisan tsb sudah umum & sang penulis meniatkan makna "Jika Allah menghendaki", bukan makna lain :).
3. WAJIB memisahkan huruf nun & syin jika dituliskan dalam huruf Arab: إِنْ شَاءَ اللَّهُ (hayoo dicek autotext masing2 :)).
4. Hal2 semacam ini sbaiknya tdk usah jadi perdebatan apalagi permusuhan. Mengutip perkataan seorang ulama: Jauhi perdebatan yg tidak menghasilkan amal nyata.
Jadi daripada sia2, sangat baik jika kita menjadikan kata إِنْ شَاءَ اللَّهُ sebagai bentuk tawakkal kita terhadap apa yg sudah kita rencanakan (Al-Kahfi: 23-24). Bukan sbg perdebatan, apalagi sebagai bentuk "ingkar janji" terselubung. Na'udzubillah :)

@ArabicWay
Pin:27FAC965














3.22.2013

The Centong Hunter (Awwab dan Empatinya)

Setiap anak adalah istimewa.

Itulah yang selalu saya coba tanamkan dalam diri ini, untuk menghindari kemungkinan semacam pilih kasih yang memang sangat alami terjadi =)

Melihat Maher dengan wajahnya yang cenderung imut-imut dan tingkahnya yang manja, saya kerap lebih senang memanjakannya dengan pelukan, dll. Karena tanpa saya peluk pun, Maher memang suka sekali menyandarkan tubuhnya di tubuh saya, dalam aktivitas apapun (bahkan sekarang saat saya menuliskan ini, hehe).

Tapi Awwab juga istimewa, alhamdulillah =)

Sejak kecil, pembawaannya dewasa dan berwibawa. Jarang menangis sejak bayi, tidak banyak bicara dan tidak manja.

Salah satu yang terlihat menonjol adalah sikapnya yang penuh empati dan hatinya yang lembut.

Beberapa waktu yang lalu, bersama teman-teman sekolahnya kami piknik ke de Ranch, Lembang.
Di sana mereka bermain di area The Gold Hunter. Mencari 'emas', batu kuning kecil di antara bebatuan lain di dasar kolam yang dangkal. Mereka 'dipersenjatai' dengan centong, keranjang kecil dan kantong berbahan plastik yang dikalungkan di leher.

Awwab sangat bersemangat. Matanya juga cukup jeli menemukan 'emas-emas' itu. Sampai beberapa menit dan cukup banyak emas yang dia temukan, lalu fokusnya berubah! Bukannya mencari emas, Awwab justru 'sibuk' mengamankan centong milik teman-temannya yang hanyut =D

Berkali-kali ia memungut centong yang hanyut ditinggalkan temannya  dan berteriak, "Ma, ini punya siapaaa??".
=D

Ini The Golden Hunter, nakkk.. Bukan The Centong Hunter =D

Keterangan gambar: Awwab bersama teman-temannya di area The Gold Hunter, dengan satu centong di tangannya dan satu centong lain di kantong plastik di dadanya =D

#terlalu memikirkan teman =D

Anak: Cangkir yang Kosong (2)

Alhamdulillah, kemarin saya berkesempatan bermain bersama anak-anak di Taman Tanjung, Simatupang. Karena 'kunjungan' kami tsb tanpa rencana, tidak ada peralatan bermain pasir yang kami bawa.

Alhamdulillah anak-anak dapat dipahamkan, bahwa kita tetap bisa membuat sesuatu cukup dengan tangan.

Mulailah mereka beraksi :D

Kelihatannya mereka sama-sama membuat semacam gunung. Tapi celoteh mereka beda.

Maher: Ma! Maher bikin rumah rayap!! Musamus!!

Awwab: Ma, ini seperti yang di film Omar. Khandaq.

MasyaAllah.. Saya sangat terkejut pada imajinasi mereka.

Memang belum lama ini kami pernah sama-sama menonton video pendek tentang musamus atau rumah rayap atau rumah semut putih di Papua.

Dan soal film Omar, entah sudah berapa kali kami mengulangnya, terutama adegan-adegan heroik peperangan. Dan mungkin sangat membekas di pikirannya tentang parit yg dibangun Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya pada perang khandaq.

See, how children are empty cups. Dengan apa kita mengisinya, begitulah ia jadinya.

Terimakasih untuk keajaiban-keajaiban yg kalian tunjukkan setiap hari, anak-anakku sayang, smoga Allah selalu menunjuki mama untuk selalu mengisi 'gelas' kalian dengan yg terbaik. Aamiin..

3.01.2013

Celoteh Kecil 1

Bagiku anak-anak selalu ajaib. Dan selalu mampu menciptakan yang ajaib-ajaib di hati seorang ibu. Paling tidak itulah yang kurasakan terhadap dua buah hati mungilku.

Tak terasa Awwab sudah berusia 4 tahun, dan adiknya Maher 3 tahun. Alhamdulillah.. :)

Aku sangat mensyukuri keajaiban-keajaiban yang Allah ciptakan pada mereka. Tak ingin rasanya semua ini terlewat, tapi hari harus berlalu.

Maka mumpung masih ingat, aku ingin menuliskannya. Lalu kelak ketika aku membacanya, aku kembali merasakan getar-getar ajaib di hatiku, getar yang sama seperti saat itu. Getar kesyukuran. Semoga :)

Celoteh Awwab:
Beberapa hari terakhir, Awwab kerap bermain di luar rumah. Keluar tanpa izin, tanpa alas kaki. Sesuatu yang di luar kebiasaannya, di luar dari apa yang selalu kutanamkan.

Lalu beberapa kata-kata yang tidak lazim dan tidak pernah kusebut di rumah, keluar dari lidahnya. What?? Baru berapa hari bergaul bebas, dia sudah dapat kosakata buruk. Sedih bercampur kesal, aku spontan menghukumnya.

"Pokoknya Kakak gak boleh main sama Z lagi!". Aku melarangnya bermain dengan anak yang kusangka telah memberinya pengaruh buruk tsb.

Awwab cuma diam dan terlihat menurut.

Esoknya, ketika kami sedang bermain bersama, entah ada apa ia berkata:
"Ma, kalau di syurga, Awwab boleh main sama Z lagi kan?" :D
#masyaAllah :)


-------------------------
Celoteh Maher

Alhamdulillah, aku bersyukur memiliki adik-adik yang kurang lebih berpandangan sama tentang pendidikan anak. Salah satunya adik bungsuku yang anak-anakku memanggilnya dengan "kak Cilli".
Ia kerap menanamkan hal-hal baik pada mereka dengan cara yang unik.

Suatu hari, kak Cilli mengajarkan mereka untuk membiasakan minum air putih hangat. "Supaya ginjal kita tersenyum", begitu kak Cilli mengajarkan.

Anak-anak pun diajarkan sedikit-sedikit tentang organ tubuh, letak ginjal, cara kerjanya dan beberapa hal sederhana lainnya. Alhamdulillah mereka dengan senang hati memilih minum air hangat :)

Sekitar sebulan yang lalu, kami pergi berlibur ke Bandung. Sudah sewajarnya, villa di daerah yang dingin menyediakan fasilitas air hangat.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku mengajarkan pada mereka tentang posisi keran air panas dan dingin.
"Kalau putar kesini, airnya hangat. Kalau putar kesini, airnya dingin. Brr". Mereka terlihat antusias.

Lalu Maher berkomentar, "Ma, air hangat! Supaya ginjal kita tersenyum!!"
:D

Akupun tertawa dan berkata dalam hati, "Air hangat yang membuat ginjal tersenyum itu diminum ya dek, bukan yang untuk mandi"... :D

------------------------
Allohu akbar. Terimakasih ya Allah atas nikmatmu yang luar biasa. Atas anak-anak shalih yang Kau anugerahkan padaku. Bantu aku untuk menjaga fitrah mereka selalu, sampai mereka ke syurga & menggiringku ke syurga.

Aamiiiin :)